Saya baru ingat
ternyata sudah lama juga saya ngga
nulis di sini. Jadi, selain emang
lagi berusaha buat konsisten nulis di tapak.in
saya juga sedang mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan di dalam/luar
kampus yang sekiranya bermanfaat. Terutama kegiatan yang baru saja saya ikuti,
menjadi panitia Carreer Days #20 ECC UGM. Kenapa kegiatan ini? Nanti
saya ceritakan bagaimana perubahan mindset
yang bisa terjadi dengan sangat drastis hanya karena kegiatan yang
berlangsung selama dua hari, dari pagi hingga sore, dan melibatkan 35.000
pengungjung!
Ini
bukan pengalaman pertama saya menjadi panitia sebuah event. Bukan juga satu-satunya kepanitaan yang mengajarkan saya
banyak hal. Singkat cerita, di kegiatan ini saya diamanahkan menjadi Liaison Officer (LO), yang katanya
kebanyakan orang tugas LO itu ngga beda
jauh sama pembantu. Yang saya rasakan kurang lebih sama, emang banyak bantu-bantunya. Tapi bedanya dilakuin dengan ikhlas,
senang aja bisa meringankan kerja
dari officer perusahaan yang jauh
lebih berat tugasnya disbanding kami para LO. Hingga career days #20 akhirnya selesai, bersamaan dengan rasa syukur saya
telah menjadi bagian dari acara yang luar biasa ini. Luar biasa buat siapa?
Anggap saja hanya saya yang merasa acara ini luar biasa, karena begini
ceritanya:
Saya
sempat ragu untuk menjadi panitia di acara ini karena berbagai alasan, baik
khawatir dengan jadwal seleksi yang kemungkinan bentrok dengan acara lain
maupun pelaksanaan di hari H yang bertepatan dengan weekend. Maklum, saya merasa kurang liburan di semester lalu jadi
bawaanya ingin main melulu. Tapi dengan menghilangkan semua kekhawatiran, dan
memantapkan diri untuk mengesampingkan ego untuk bersenang-senang --yang saya
yakin senangnya hanya sesaat—akhirnya saya mendaftar menjadi panitia career days #20 di hari terakhir
pendaftaran. Dengan menuliskan posisi sebagai pemandu ruang tes & announcer di kanan atas lembar
pendaftaran, berkas saya antar ke Graha Karir ECC.
Tiga
hari berselang saya menerima sebuah pesan singkat, berisi informasi yang
ditujukan kepada saya agar datang untuk melakukan psikotes & wawancara karena saya telah lolos proses seleksi berkas.
Semua masih berjalan seperti rekrutmen panitia pada umumnya yang sering saya
jalani, hingga tibalah proses seleksi wawancara. Saya tidak ingat nama observer yang mewawancarai saya (padahal
saya menanyakan nama beliau). Selama wawancara, saya tidak ngeh kenapa arah pertanyaan selalu mengarah ke kemampuan melayani
orang lain dsb. Saya anggap itu hal yang biasa dan berpikir semua pelamar
ditanyakan hal yang serupa di divisi apapun mereka mendaftar. Kamis (18/8),
sehari setelah hari kemerdekaan Indonesia, pengumuman hasil seleksi panitia career days #20 pun dipublikasikan. Saya
melihat nama saya terpampang di daftar panitia yang diterima di website ECC,
namun sebagai LO!
Sempat khawatir karena sekalipun belum pernah menjadi LO dalam sebuah acara, apalagi di acara ini harus menjadi LO orang-orang penting di perusahaannya masing-masing. Namun, dengan semangat setengah ke-pede-an
saya mencoba mendalami peran LO ini dari artikel-artikel “bagaimana menjadi LO
yang baik” yang tersebar di google. Acara kurang dari tujuh hari ketika saya
tahu bahwa saya akan mendampingi PT. Nindya Karya Tbk, sebuah perusahaan
konstruksi BUMN yang sudah pasti banyak
diminati oleh job seeker. Persiapan pun saya mulai dengan
melakukan research sebanyak-banyaknya
mengenai perusahaan ini.
Tepat
dua belas jam sebelum acara dimulai saya dihubungi oleh officer PT. Nindya Karya Tbk untuk dibantu guna mempersiapkan
desain booth yang akan mereka tempati
esok harinya. Dengan sigap saya memenuhi permintaan mereka yang masih dalam
taraf wajar.
Sabtu
(27/8), career days #20 resmi dibuka.
Terhitung ada 20 ribu pengunjung yang hadir di hari pertama dan 15 ribu
pengunjung yang memilih hadir di hari kedua, Minggu (28/8). Benar saja,
sebanyak 650 job seeker menyasar booth PT. Nindya Karya Tbk yang
lokasinya cukup strategis. Pak Wisnu dan Pak Ridho, dua officer yang diutus PT. Nindya Karya Tbk di hari pertama sangat
militan dalam menjaring para pelamar kerja di PT. Nindya Karya Tbk. Pak Akbar, officer lainnya yang baru datang di hari
kedua juga sangat total dalam melaksanakan proses seleksi pegawai perusahaanya.
Dari 650 pendaftar, hanya 83 peserta yang saya catat lolos seleksi awal untuk
kemdian melenggang ke proses seleksi berikutnya.
| Job seeker yang sedang mengantri giliran untuk melakukan tes. Foto oleh: careernews.id |
Pak
Wisnu meminta saya untuk menyampaikan informasi kepada announcer agar memberi tahu ke seluruh job seeker bahwa pengumuman yang mereka tunggu-tunggu sudah dapat
dilihat di booth PT. Nindya Karya
Tbk. Ada yang lolos, ada yang tdak. Saya melihat emosi yang tercampur dari
seluruh peserta tes yang melihat pengumuman tersebut. Ketika saya masih
tertegun melihat pemandangan tersebut, tiba-tiba Pak Akbar sudah duduk di
samping saya, dan melempar pertanyaan singkat penuh makna.
“Dapat pelajaran apa selama dua
hari ini, Van?” Pak Akbar seakan penasaran, menanyakan apa yang didapat oleh
LO-nya ini yang sudah dua hari mendampingi perusahaannya dalam proses
rekrutmen.
“Banyak pak. Tapi yang paling
penting saya jadi memiliki cara pandang baru dalam rekrutmen dunia kerja. Saya
kira dulu perusahaan sudah menarget akan meloloskan berapa pelamar dalam jumlah
angka. Tapi setelah ketemu dengan bapak-bapak semua dan ikut melaksanakan
rekrutmen PT. Nindya Karya selama dua hari ini saya jadi paham,” jawab saya
setengah kaget.
Pak
Akbar tak menyanggah sedikitpun jawaban saya yang terbilang panjang jika
melihat pertanyaan yang sesederhana itu. Tapi raut wajah puas terlihat sebelum
akhirnya Pak Akbar menanggapi jawaban saya.
“PT. Nindya Karya sudah tiga kali
ikut acara ini dan saya selalu menanyakan hal yang sama ke LO kami. Saya puas
jawabanmu bikin kami lega, karena kamu selama dua hari ini bukan hanya dapet capek, tapi juga teredukasi,”
Ungkap Pak Akbar.
Memang
perusahaan memiliki standar yang sangat tinggi dalam rekrutmen pegawai baru.
Banyak sekali persyaratan yang harus dicukupi oleh pelamar agar bisa mnejadi
bagian dari sebuah perusahaan. Tapi satu hal yang baru saya pahami, ketika
seseorang telah merasa memiliki seluruh kriteria dasar yang diminta perusahaan
namun pada akhirnya ia gagal menjadi bagian dalam perusahaan tersebut itu bukan
karena pribadinya yang belum cukup baik atau kalah baik dengan orang lain. Ini
adalah faktor kecocokan!
“Makanya kamu
jangan pernah berpikir setelah punya kemampuan akademis yang baik &
dilengkapi skill berorganisasi lantas
kamu bisa dengan mudah masuk ke perusahaan mana saja yang kamu mau. Kami dan
banyak perusahaan lainnya menerapkan sistem kecocokan. Kalau kamu cocok dengan
kultur perusahaan kami ya kamu lolos. Tau dari mana cocok atau tidak cocoknya?
Saya sudah belasan tahun Van kerja di bagian HRD hehehehe,” jelas Pak Akbar
Saya pun paham
bagaimana orang-orang yang memiliki kualitas diri yang baik akan sangat
frustasi ketika menemukan dirinya yang sulit memasuki dunia pekerjaan. Bukan
karena perusahaannya, tapi karena dirinya yang belum memahami bahwa ketika
seseorang sudah melakukan apa saja untuk menjadi yang lebih baik, ia juga harus
bisa menerima bahwa ia bukan yang terbaik dalam kasus tertentu, dalam sudut pandang orang-orang tertentu.
Kopi Flores ini
sudah dingin. Langsung saja saya tenggak habis. Dan di akhir tulisan ini, saya
berharap semoga ini bisa menjadi pelajaran bersama.
Elvan
Arydoni Budi Susilo

good writing ELvan! Like (Y) tuliss lagi vannn
ReplyDeleteWeee haha tumben mampir mbak. Iseng aja ini udah lama ga ngeblog. Makasih mbak angi entar aku gantian baca blogmu deh hehehe
DeleteWah, pengalaman bgus slama jadi panitia ...
ReplyDeleteHehe makasi bro suda mampir
DeleteWhat a experience! ;)
ReplyDeleteKa pertanyaannya apa aja ya? boleh kasih tau lebih spesifik?
ReplyDelete