Skip to main content

Ketika Keinginan yang Tak Tercapai Benar-benar Digantikan Sesuatu yang Lebih Baik

Related image

Ngga gampang buat belajar semua ilmu yang ada di perkuliahan, sekaligus belajar nerima kenyataan ngga dapet jurusan yang diinginkan. Semua orang yang gagal untuk masuk jurusan yang mereka mau pasti sangat paham gimana beratnya menanggung dua hal itu...
Pemikiran seperti itu sempat membuat tensi belajar saya tidak karuan selama kurang lebih dua tahun awal di dunia perkuliahan, dan menafikan semua hal baik yang datang pada saat bersamaan. Ya mau gimana? Pada saat itu bayang-bayang soal jurusan idaman seringkali merusak momen-momen indah. Dan terlalu sering berandai-andai dengan pola “kalo aja......”, sampe akhirnya capek sendiri kayak gitu terus.
Dua semester awal saya lalui dengan ritme belajar yang super gila, dan berujung pada IPK yang super jelek. Kok bisa? Ya gimana ngga jelek, belajarnya bukan pelajaran selama kuliah. Tapi belajar buat ikut seleksi tulis masuk jurusan idaman di tahun berikutnya. Kalo ada dosen yang cuma bikin ngantuk selama ngajar di kelas, saya langsung pindah duduk di tempat yang di luar jarak pandang beliau, pasang headset, dan ngerjain soal-soal materi ujian seleksi. Itu bener-bener masa-masa yang berat, kenapa?
Pada saat itu tekanannya banyak banget. Saya harus belajar ‘ekstra’ di luar jadwal kuliah biar bisa tetep paham materi-materi ujian seleksi di tahun berikutnya. Bukan cuma itu, saya juga dapet banyak cibiran dari temen-temen yang menganggap saya ngga cinta sama jurusan yang sekarang. Omongan demi omongan, bahkan sampe ada yang terang-terangan nyindir. Ujungnya, sedikit banget orang-orang yang akrab dengan saya karena mereka menganggap saya sebenarnya ngga mau kuliah di jurusan ini. Saat itu saya anggap itu semua merupakan konsekuensi dari niat saya untuk terus berjuang buat dapetin jurusan yang saya mau.
Tapi bukan berarti saya bener-bener ngga punya temen, karena pada dasarnya saya bukan orang yang sulit bergaul. Mereka-mereka yang mau mengesampingkan omongan orang dan tetap mau menjalin hubungan pertemanan yang dalam dengan saya pada akhirnya menjadi inspirasi dan semangat saya selama proses menyelesaikan studi. Saya banyak dapat dukungan dan pesan-pesan berharga dari mereka. Semua itu hasil dari diskusi santai soal kehidupan dan bagaiamana cara kami memandang dunia. Mereka semua benar-benar membuat saya pada akhirnya merasa tidak keberatan dengan omongan-omongan sinis teman saya yang lain. Percayalah, semakin dewasa kamu tidak perlu memiliki teman (teman ⍯ relasi) yang terlalu banyak. Cukup mereka-mereka yang mau mengerti apa adanya kita. Sisanya biar saja, toh kita memang ngga bisa menyenangkan semua orang.
Hingga akhirnya saya sadar, saya benar-benar berdosa kalau tidak bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan selama hampir empat tahun ini. Banyak orang yang bertanggungjawab atas segala hal baik yang telah datang kepada saya. Berkat mereka, saya bisa mengubah situasi yang tadinya dianggap sebelah mata, hingga bisa jadi salah satu calon wisudawan periode pertama. Lebih jauh lagi, tanpa mereka, atau lebih tepatnya tanpa berada di sini, saya tidak akan pernah mengenal siapa diri saya yang sesungguhnya. Karena proses pembelajaran yang paling berharga menurut saya adalah proses pembelajaran mengenal atau membentuk karakter diri sendiri. 
Lagian, ada banyak hal yang harus tetap berjalan walaupun ngga sesuai keinginan. Dan ada banyak orang yang harus dibuktikan bahwa,


"و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ"

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Terima kasih untuk semua orang yang terlibat pada tahap ini, terima kasih sudah mau jadi bagian dari kisah ini. Selain keluarga, kalian merupakan sumber semangat saya. Dan ini semua untuk kalian.....



Comments

  1. Cause in the end, every cloud has a silver lining ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Absolutely.... By the way, I'm really happy that you still read my story, like the way I did to you :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terimakasih :)

XII Ipa 2, Terimakasih. Rabu, 30 Mei 2014                 Jam 4 pagi gue bangun dari kasur dan langsung buru2 nyalain tv karena pertandingan Liga Champions digelar saat itu. Tapi emang dasarnya apes, gue bangun pertandingan nya udah selesai. Tapi…. Madrid menang, gapapa deh jadi sedikit lega biarpun gak nonton. Hehehe.                 Permasalahannya gue bisa telat bangun buat nonton bola adalah, gue baruuuuu aja pulang jam 12 malem sampe rumah setelah melewatkan 4 hari spesial, istimewa, dan bersejarah dalam hidup gue. Gue baru pulang tour perpisahan SMA. Nah, yg gue akan bahas adalah tentang perpisahan SMA gue, bukan tentang Liga Champions nya loh ya hehehe.

Sedikit Sharing: Sebuah Pengalaman Dahsyat

             Cangkir kopi di samping laptop saya tinggal sedikit. Kiranya ngga ada 2 tegukan lagi paling sudah habis. Ohya, ini kopi oleh-oleh teman sepulang masa baktinya (Kuliah Kerja Nyata) selama dua bulan di Flores. Entah apa nama jenis kopi ini, yang pasti ini bukan bajawa, satu-satunya jenis kopi dari Flores yang saya tahu dan sering saya minum di warung-warung kopi di Jogja. Akhirnya kopi flores yang saya pernah minum bukan hanya bajawa. Dan akhirnya saya baru ingat…