
Ngga gampang buat belajar semua ilmu yang ada di perkuliahan, sekaligus belajar nerima kenyataan ngga dapet jurusan yang diinginkan. Semua orang yang gagal untuk masuk jurusan yang mereka mau pasti sangat paham gimana beratnya menanggung dua hal itu...
Pemikiran
seperti itu sempat membuat tensi belajar saya tidak karuan selama kurang lebih
dua tahun awal di dunia perkuliahan, dan menafikan semua hal baik yang datang
pada saat bersamaan. Ya mau gimana? Pada saat itu bayang-bayang soal jurusan
idaman seringkali merusak momen-momen indah. Dan terlalu sering berandai-andai
dengan pola “kalo aja......”, sampe akhirnya capek sendiri kayak gitu terus.
Dua semester
awal saya lalui dengan ritme belajar yang super gila, dan berujung pada IPK
yang super jelek. Kok bisa? Ya gimana ngga jelek, belajarnya bukan pelajaran
selama kuliah. Tapi belajar buat ikut seleksi tulis masuk jurusan idaman di
tahun berikutnya. Kalo ada dosen yang cuma bikin ngantuk selama ngajar di
kelas, saya langsung pindah duduk di tempat yang di luar jarak pandang beliau,
pasang headset, dan ngerjain soal-soal materi ujian seleksi. Itu bener-bener
masa-masa yang berat, kenapa?
Pada saat
itu tekanannya banyak banget. Saya harus belajar ‘ekstra’ di luar jadwal kuliah
biar bisa tetep paham materi-materi ujian seleksi di tahun berikutnya. Bukan
cuma itu, saya juga dapet banyak cibiran dari temen-temen yang menganggap saya
ngga cinta sama jurusan yang sekarang. Omongan demi omongan, bahkan sampe ada
yang terang-terangan nyindir. Ujungnya, sedikit banget orang-orang yang akrab
dengan saya karena mereka menganggap saya sebenarnya ngga mau kuliah di jurusan
ini. Saat itu saya anggap itu semua merupakan konsekuensi dari niat saya untuk
terus berjuang buat dapetin jurusan yang saya mau.
Tapi bukan
berarti saya bener-bener ngga punya temen, karena pada dasarnya saya bukan
orang yang sulit bergaul. Mereka-mereka yang mau mengesampingkan omongan orang
dan tetap mau menjalin hubungan pertemanan yang dalam dengan saya pada akhirnya
menjadi inspirasi dan semangat saya selama proses menyelesaikan studi. Saya
banyak dapat dukungan dan pesan-pesan berharga dari mereka. Semua itu hasil
dari diskusi santai soal kehidupan dan bagaiamana cara kami memandang dunia.
Mereka semua benar-benar membuat saya pada akhirnya merasa tidak keberatan
dengan omongan-omongan sinis teman saya yang lain. Percayalah, semakin dewasa
kamu tidak perlu memiliki teman (teman ⍯ relasi) yang terlalu banyak. Cukup
mereka-mereka yang mau mengerti apa adanya kita. Sisanya biar saja, toh kita
memang ngga bisa menyenangkan semua orang.
Hingga
akhirnya saya sadar, saya benar-benar berdosa kalau tidak bersyukur atas apa
yang telah saya dapatkan selama hampir empat tahun ini. Banyak orang yang bertanggungjawab
atas segala hal baik yang telah datang kepada saya. Berkat mereka, saya bisa
mengubah situasi yang tadinya dianggap sebelah mata, hingga bisa jadi salah
satu calon wisudawan periode pertama. Lebih jauh lagi, tanpa mereka, atau lebih
tepatnya tanpa berada di sini, saya tidak akan pernah mengenal siapa diri saya
yang sesungguhnya. Karena proses pembelajaran yang paling berharga menurut saya
adalah proses pembelajaran mengenal atau membentuk karakter diri sendiri.
Lagian, ada banyak hal yang harus
tetap berjalan walaupun ngga sesuai keinginan. Dan ada banyak orang yang harus
dibuktikan bahwa,
"و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ"
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
Terima kasih
untuk semua orang yang terlibat pada tahap ini, terima kasih sudah mau jadi
bagian dari kisah ini. Selain keluarga, kalian merupakan sumber semangat saya.
Dan ini semua untuk kalian.....

Cause in the end, every cloud has a silver lining ;)
ReplyDeleteAbsolutely.... By the way, I'm really happy that you still read my story, like the way I did to you :)
Delete