Jumat
(13/11) ketika Paris di siang hari masih dalam persiapan menggelar berbagai
hiburan masyarakat termasuk gelaran pertandingan persahabatan yang
mempertemukan tim nasional Perancis dengan tim nasional Jerman yang bertempatan
di stadion kebanggan Perancis, Stade de France berubah menjadi Paris yang
mencekam di malam hari, Paris yang banjir darah. Setidaknya ungkapan tersebut
cukup untuk menggambarkan dampak dari ulah segelintir manusia yang sungguh terlewat
keji. Dilansir CNN Indonesia peristiwa tersebut merenggut 153 nyawa warga yang
berada di 6 titik ibu kota Perancis yang menjadi lokasi sasaran pelaku teror.
Tetapi
tragedi Paris yang menghebohkan hampir seisi bumi ternyata bukanlah
satu-satunya peristiwa yang mengakibatkan duka di hari itu. Musibah gempa
berkekuatan 7 Skala Richter (potensi tsunami) mengguncang negara sakura, Jepang,
tepatnya 15 km barat daya Kota Makurazaki. Gempa yang terjadi pada Sabtu
(14/11) waktu Jepang, terjadi Jumat malam pukul 20.51 (GMT) di belahan dunia
lain. Lainnya, kabar duka juga datang dari benua Asia tepatnya Libanon.
Sebanyak 46 orang kehilangan nyawanya akibat bom bunuh diri yang menyerang
negara yang berbatasan langsung dengan Suriah dan Israel ini. Sebanyak 2 bom
bunuh diri mampu meluluhlantakkan wilayah selatan Beirut.
Satu
lagi negara Asia yang harus menanggung duka atas kejadian bom bunuh diri adalah
Irak. Serangan teror di Bagdad, Irak pada hari yang sama menewaskan 26 orang
dan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka. Serangan teror di Bagdad terjadi
di 2 tempat yang berbeda dengan rentang waktu yang tidak terlalu jauh. Total 3
negara terserang aksi teror dan 1 negara tertimpa musibah di hari dan tanggal
yang menjadi ketakutan bagi beberapa orang yang masih mempercayainya. Peristiwa
ini disebut dalam bahasa inggris sebagai Friday
13th, hari dan tanggal yang dianggap sial dalam takhayul Barat.
Isador
Coriat, psikiater asal Amerika, mengistilahkan ketakutan terhadap hari jumat
bertanggal 13 dengan sebutan "paraskevidekatriaphobia" atau
"friggatriskaidekaphobia". Menurut riset yang dilakukan Stress Management Center and Phobia
Institute, sebuah situs di Amerika yang melakukan peneletian mengenai
kondisi psikologi warga Amerika memperkirakan 17-21 juta orang di AS
terpengaruh dengan fenomena ini. Hal tersebut secara statistik justru berdampak
positif dalam catatan angka kecelakaan di jalan raya karena sangat sedikit
warga yang beraktivitas normal jika hari kalender menunjukan hari ke-13 dari 12
bulan yang ada merupakan hari jumat.
Namun mitos tentang Friday 13th yang sudah lama menjadi
ketakutan bagi warga belahan dunia bagian Barat, nampaknya tidak begitu populer
di Indonesia. Di Indonesia sepertinya hanya suku jawa yang memiliki kepercayaan terhadap penanggalan suatu hari.
Suku jawa mengenal istilah “geblake mbahe” yakni keyakinan bahwa pada hari
kematian sang kakek leluhur merupakan pantangan untuk melakukan aktivitas serta berpergian.
Tidak ada yang salah dalam
mempercayai sebuah mitos atau takhayul, terlebih jika mitos yang ada merupakan
tradisi turun temurun. Namun mitos tetaplah mitos, mempercayainya bukan berarti
jadi terobsesi untuk membuktikan kebenarannya. Karena pada dasarnya kemungkinan
selalu ada. Hidup dimulai seperti saat seseorang melempar koin dua sisi dan
menunggunya kembali ke permukaan. Selalu ada kemungkinan setiap sisi untuk menunjukan
wajahnya.
Daftar Pustaka::
http://www.drdossey.com/friday13.html

Comments
Post a Comment