Sejarah Indonesia menuliskan pada hari ini, tepat hitungan mundur delapan puluh tujuh tahun yang lalu tergelar peristiwa apik yang ditorehkan masyarakat Indonesia, khususnya bagi para pemuda. Lebih dari seabad silam, luasan wilayah Indonesia yang masih terbelenggu oleh penjajah pun berbanding lurus dengan banyak ormas besutan rakyat pribumi yang berdiri atas latar dan kepentingan masing-masing. Pergerakan masyarakat kala itu mengedepankan kepentingan etnik seperti budaya, agama, suku dan asal-usul. Saat itu identitas lokal terkesan memiliki landasan dan gerakannya sendiri dalam memperjuangkan harkat dan martabat Indonesia dari kaum penjajah.
Penantian akan organisasi yang pergerakannya mengedepankan persatuan bangsa pun akhirnya menemui titik terang kala PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang tergabung dari pelajar seluruh Indonesia mendeklarasikan diri dan ikut ‘berlari’ dalam lintasan pergerakan sebelum kemerdekaan. Aksi nyata pelajar tersebut pun tak tanggung-tanggung kala Sugondo Djojopuspito dan rekan-rekan membentuk sebuah alat pemersatu kesatuan Indonesia yang dapat mengikat perbedaan sejarah, hukum adat, bahasa, dan kemauan dalam sebuah rumusan pemuda. Kini dikenal dan dirayakan sebagai Sumpah Pemuda.
17 tahun setelahnya, masih melibatkan generasi muda yang dipelopori oleh Soekarni, Wikana, dan Chaerul Saleh mengisahkan sebuah aksi penculikan golongan muda terhadap pengemuka negara. Saat itu terjadi perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua yang diwakili Presiden pertama Indonesia Soekarno, beserta Hatta dan Mr. Achmad Soebarjo.
Kaum muda yang sangat menginginkan kemerdekaan – selayaknya tipikal khas anak muda yang menggebu-gebu – terus memaksa hadirnya kemerdekaan. Mereka meminta kepastian yang jelas dengan mendesak golongan tua untuk mempercepat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa intervensi PPKI. Golongan muda yang telah mengetahui bahwa ada provokasi dari pihak penjajah terhadap badan yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada saat itu membawa Soekarno & Hatta ke Rengasdengklok selama 1 hari penuh dan mencoba bernegosiasi tentang waktu pelaksanaan deklarasi kemerdekaan Indonesia dari para penjajah.
Akhirnya berkat keberanian para pemuda saat itu, kemerdekaan yang berhasil direngkuh Indonesia pun diakui dunia sebagai hasil dari “iuran darah” dan sumbangan keringat serta keberanian dari para pejuang, bukan pemberian atas dasar belas kasih.
Takdir seperti selalu ingin menguji kualitas generasi muda yang dimiliki Indonesia lewat persitiwa 53 tahun pasca Indonesia merdeka. Gerakan reformasi tahun 1998, sekali lagi menjadi peristiwa besar dalam sejarah Indonesia yang dimotori oleh mahasiswa. Para mahasiswa yang tergabung dalam sebuah aliansi mahasiswa menuntut sebuah perubahan di batang tubuh pemerintahan negara. Walau peristiwa ini sedikit mencoreng nama baik beberapa lembaga militer Indonesia, namun pada akhirnya perjuangan pemuda yang digerkakkan oleh mahasiswa mampu membawa Indonesia ke masa kini, Indonesia yang telah bereformasi. Berjalan perlahan dan seirama dengan iklim demokrasi berkembang.
Sebuah paparan singkat mengenai aksi pemuda yang rela terinjak, bukan hanya berteriak. Juga sebuah contoh perjuangan pemuda yang mampu mewujudkan harapan untuk memutar-balikan segala keresahan. Tentu perbedaan selalu ada di setiap zaman dan masalah yang dihadapi pun silih berganti dengan regenerasi pemuda yang siap menanti gilirannya untuk beraksi. Jika berpikir subjektif mungkin ada sebuah pesan dari para pejuang muda yang telah berjuang agar pewaris semangatnya kelak, agar berani menghadapi masalah yang ada di setiap zamannya.
Ketika pemuda masa kini sadar dan mengerti bahwa perjuangan yang akan mereka hadapi tidak kalah penting dengan pendahulunya, maka ibu pertiwi harusnya tidak lagi harus bersusah hati seperti yang tertulis di sebuah lirik “Kulihat Ibu Pertiwi” Ciptaan Ismail Marzuki.
Jadi, sudah terpikir kah apa permasalahan yang dihadapi generasi muda saat ini? Apa yang akan dilakukan saat banyak jajaran generasi muda terus mengkaji tentang bencana yang saat ini melanda? Apa kabar dengan tantangan beberapa bulan lagi menuju gerbang Masyarakat Ekonomi Asean? serta bagaimana dengan potensi Indonesia melalui bonus demografi yang menantang kita untuk melesat jauh meninggalkan barisan negara berkembang untuk berada di level negara maju?
Tentunya Indonesia di kemudian hari sangat menantikan aksi nyata para pemuda hari ini. Sebagai penutup, izinkan penulis mengkutip pernyataan Ganjar Pranowo dalam sebuah momen perbincangan di sebuah talkshow. Beliau sempat menegaskan bahwa pemuda yang terus menggerutu akan nasib bangsa tidak akan mendapat apa-apa.
Selamat hari sumpah pemuda generasi muda yang tidak akan diam saja!
Oleh: Elvan Susilo
*Nb: Juga di posting di www.bulaksumurugm.com


ga ngerti
ReplyDelete