Skip to main content

10 februari 2013 12 AM - 12 PM

Jam 12 dini hari, berganti dari 9 ke 10 februari, berganti juga dari 16 ke 17, begitupula dari remaja menjadi dewasa, mudah-mudahan juga berganti dari baik menjadi lebih baik.

Usia gue kini sudah menginjak 17 tahun.
Yang kata orang-orang merupakan masa transisi dari masa remaja menuju dewasa. Dimana pola pikir seseorang yang sudah mencapai tahap ini juga sudah satu level diatas mereka yang masih sibuk dengan masa labil. Itu memang sudah ada di bayangan setiap orang yang akan menginjak usia tersebut. Namun bagi gue, 17 tahun bukan hanya sekedar mendapat hak suara untuk memilih/mencontreng para pembual negara itu, bukan juga beragaya dengan SIM A / SIM C yang sudah di tangan, dan bukan juga tentang 'sweet 17th'. Namun dilihat dengan teropong dengan skala yang lebih jauh, usia ini adalah usia dimana anak 'putih abu-abu' akan melepas masa santai nya, melepas masa labilnya, menuju perguruan tinggi yang akan mengagungkan nama mereka menjadi mahasiswa. Tentu itu bukan merupakan kiasan karang di pesisir pantai yang akan terkikis, namun itu semua nyata. Jika di hitung, 17 tahun seseorang menyisakan kurang lebih 1 setengah tahun di bangku sekolah, dan akan melanjutkan ke bangku universitas jika yang ingin melanjutkan pendidikanya. Kenangan 9 tahun sekolah, 9 tahun kelam bersama rekan-rekan di berbagai seragam sekolah tentu akan di akhiri dengan sebuah acara klasik yang biasa disebut prom night.

"Kalau sudah menginjakkan satu kaki dengan penuh percaya diri, pasti semua bisa teratasi." Itu prinsip gue. Insya Allah gue yakin menginjakkan satu kaki di usia ini dan akan terus berjuang menapakkan satu kaki lagi di perguruan tinggi yang gue mau, dan kemudian sukses membuat orang tua bangga dengan anaknya. Mungkin kalau di rekap, terlalu cepat sampai ke usia ini, terlalu cepat waktu bermain-main gue dengan mereka (teman2). Namun dengan penuh rasa bangga gue akan mengikrarkan janji suci, terhadap semua orang yang telah mensyukuri lahirnya gue di dunia ini sampai saat ini. 17,18,19,20 tahun, toh itu hanya usia, tapi naluri sebagai manusia hebat gak perlu bergantung pada umur, toh gue di usia 9 tahun pernah bercita-cita naikin haji orang tua gue. Dan itu gak jauh beda dengan keinginan gue yang sekarang ini, berarti, di usia berapapun, kita boleh-boleh aja ber-ekspetasi. Tapi bedanya, di umur gue yang 9 tahun itu gue bercita-cita dengan kata-kata, tapi di usia 17 tahun gue bercita-cita dengan tenaga dan usaha, serta kepercayaan.

"Dewasalah bro! Semoga Allah selalu memberkahimu di segala tingkah lakumu, dan terus lah berusaha menjadi orang hebat demi orang-orang yang kau sayang." - Ini doa gue hehe,

17 tahun gue bisa dibilang exciting kayak yang orang2 bilang. Dengan segala hal di hari ini gue bersyukur karena gue masih diberkati hingga usia ini, usia yang indah bagi seseorang selama hidupnya. Usia yang sudah tidak lagi remaja, namun dewasa. Tapi 17 tahun bukan tujuan akhir dari setiap orang yang hidup di dunia ini, hanya saja 17 tahun emang beda rasanya, pokoknya bagi yang udah ngalamin pasti tau lah rasanya haha.

Harapan udah gue gantungin sejak 17 tahun lalu, dan di 17 tahun kedepan akan gue buktiin kalo harapan gue gak akan sia-sia.

Comments

  1. Mantap elpan gendut yang gantengnya ga ketulungan ��

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terimakasih :)

XII Ipa 2, Terimakasih. Rabu, 30 Mei 2014                 Jam 4 pagi gue bangun dari kasur dan langsung buru2 nyalain tv karena pertandingan Liga Champions digelar saat itu. Tapi emang dasarnya apes, gue bangun pertandingan nya udah selesai. Tapi…. Madrid menang, gapapa deh jadi sedikit lega biarpun gak nonton. Hehehe.                 Permasalahannya gue bisa telat bangun buat nonton bola adalah, gue baruuuuu aja pulang jam 12 malem sampe rumah setelah melewatkan 4 hari spesial, istimewa, dan bersejarah dalam hidup gue. Gue baru pulang tour perpisahan SMA. Nah, yg gue akan bahas adalah tentang perpisahan SMA gue, bukan tentang Liga Champions nya loh ya hehehe.

Ketika Keinginan yang Tak Tercapai Benar-benar Digantikan Sesuatu yang Lebih Baik

Ngga gampang buat belajar semua ilmu yang ada di perkuliahan, sekaligus belajar nerima kenyataan ngga dapet jurusan yang diinginkan. Semua orang yang gagal untuk masuk jurusan yang mereka mau pasti sangat paham gimana beratnya menanggung dua hal itu...

Sedikit Sharing: Sebuah Pengalaman Dahsyat

             Cangkir kopi di samping laptop saya tinggal sedikit. Kiranya ngga ada 2 tegukan lagi paling sudah habis. Ohya, ini kopi oleh-oleh teman sepulang masa baktinya (Kuliah Kerja Nyata) selama dua bulan di Flores. Entah apa nama jenis kopi ini, yang pasti ini bukan bajawa, satu-satunya jenis kopi dari Flores yang saya tahu dan sering saya minum di warung-warung kopi di Jogja. Akhirnya kopi flores yang saya pernah minum bukan hanya bajawa. Dan akhirnya saya baru ingat…