Skip to main content

Saat itu jam 23.15, di saat penduduk sedang terlelap, dan, boom!



Desak riuh masyarakat memadati sekolah ku, SMAN 2 Tambun Selatan yang berada di perumahan Sinar Kompas Utama. Dengan penuh antusias mereka memadati kampus sekolah ku yang tepat berada di tengah-tengah pemukiman warga. Saat itu jam 23.15, di saat penduduk sedang terlelap, dan, boom!
Kondisi sekolah ku penuh sesak oleh manusia saat itu, mereka datang kesana dengan satu motif yang sama, membantu sekolah ku sebisa mungkin yang baru saja terkena musibah kebakaran. Musibah ini benar-benar meluluhlantakkan setiap sudut gedung sekolahku beserta isinya. Sungguh tak disangka sekolah rising star dengan akreditasi A porak poranda dalam sekejap. Aktor utama, tidak lain si jago merah, ia sukses melumat habis 40 persen sekolahku. Sungguh menghenaskan. Melihat bangunan sekolahku yang sudah kokoh, dengan air mancur di 2 penjuru, tower wifi yang menjadi surga bagi kami, dan ruang fitnes yang menjadi kebanggaan kami yang bersekolah disana kini menyisakan puing-puing.
Ini merupakan satu teguran, atau mungkin lebih tepatnya pukulan yang sangat berat karena kami sesungguhnya menanggung ini semua pasca perhelatan 10 tahun sekolah ku berdiri dalam acara pensi bertajuk ‘diesnatalis’. Riuh siswa/i sekolah ku yang hanyut dalam euforia “Yoda Idol” yang merupakan guest star pada acara tersebut, kini berubah menjadi duka yang mendalam. Duka yang dirasakan semua warga sekolah kami.
Nilai akreditasi yang baru saja di berikan sekitar 3 bulan lalu dengan hasil yang amat memuaskan, harus kami terima dalam satu paket yang tidak menyenangkan. Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Namun yang jelas ini merupakan sinyal bagi angkatan ku dan satu tingkat dibawah ku untuk membalikkan reputasi sekolah yang sudah susah payah di capai oleh kom-patriot kami, oleh para pendahulu kami. Kini,semua ada di tangan ku dan teman-teman ku, apakah ingin terlarut dengan keadaan saat ini atau akan lebih terlecut semangat juang membalikkan atau bahkan meningkatkan reputasi ‘rumah kedua kita’, kawan? Mari Bangkit!

Comments

Popular posts from this blog

Untuk yang Kedua Kali

                Input nomor peserta, input tanggal lahir, masukan rangkaian huruf captcha (sebenernya gue paling males nulis ini karena angkanya acak-acakan dan cenderung ngawur. Well, umat manusia sangat takut sama generasi robot mungkin) then , cari. “JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT !!!”. Haha shit, bahasan gue masih belum jauh-jauh dari masalah pribadi ya kayaknya? Ya bodo amat deh. Eh ini tulisan gue setelah berapa bulan ngga nge- post anyway ? Ga penting banget juga haha oke let’s get the point . Pernah gagal SBMPTN? Kalo pernah lanjutin baca ke paragraf lainnya ya. Pernah 2 kali gagal SBMPTN? Kalo pernah juga gue saranin bacanya yang khidmat biar puas ngetawain gue.                

Terimakasih :)

XII Ipa 2, Terimakasih. Rabu, 30 Mei 2014                 Jam 4 pagi gue bangun dari kasur dan langsung buru2 nyalain tv karena pertandingan Liga Champions digelar saat itu. Tapi emang dasarnya apes, gue bangun pertandingan nya udah selesai. Tapi…. Madrid menang, gapapa deh jadi sedikit lega biarpun gak nonton. Hehehe.                 Permasalahannya gue bisa telat bangun buat nonton bola adalah, gue baruuuuu aja pulang jam 12 malem sampe rumah setelah melewatkan 4 hari spesial, istimewa, dan bersejarah dalam hidup gue. Gue baru pulang tour perpisahan SMA. Nah, yg gue akan bahas adalah tentang perpisahan SMA gue, bukan tentang Liga Champions nya loh ya hehehe.

Ketika Keinginan yang Tak Tercapai Benar-benar Digantikan Sesuatu yang Lebih Baik

Ngga gampang buat belajar semua ilmu yang ada di perkuliahan, sekaligus belajar nerima kenyataan ngga dapet jurusan yang diinginkan. Semua orang yang gagal untuk masuk jurusan yang mereka mau pasti sangat paham gimana beratnya menanggung dua hal itu...