Skip to main content

Iridescent of my life



ELVAN  SUSILO

           
Elvan Arydoni Budi Susilo, nama lengkap saya yang selalu salah tulis oleh petugas kelurahan. Dilahirkan hari sabtu pon, 10 februari 1996, pada jam 12 siang, yang katanya jam-jam anak penakut dilahirkan. Dilahirkan dengan badan sangat kurus, saya telah berevolusi menjadi seperti sekarang ini. Dan dengan selamat sentosa telah menempuh 16 tahun ke usia 17 dengan berbagai rintangan.
            Mengenyam bangku pendidikan pada usia 6 tahun, saya memiliki banyak penghargaan bergengsi sejak dini. Di bidang pendidikan, saya kerap menjadi wakil sekolah dalam perlombaan calistung (membaca, menulis, berhitung) selama kelas 1-3 sd. Calistung merupakan ajang yang sangat bergengsi tingkat sd. Pencapaian terbaik saya selama sd, mengikuti lomba calistung sampai tingkat provinsi, dan lomba speech contest sampai tingkat penyisihan sekolah. Selain itu, selama 6 tahun saya tidak pernah absen dalam mengisi peringkat 1-3 di kelas.
            Lulus dari sd, dengan NEM yang sangat miris, dan sadis, saya dengan percaya diri sekaligus tidak tau diri mendaftar di SMPN 1 Tambun Selatan, sekolah favorit pada saat itu, dan juga sekolah dari kakak saya. Dan hasilnya tidak lain, dengan segala prestasi yang saya peroleh di sd dan dengan NEM saya yg begitu rendah, saya gugur dalam seleksi SMPN 1 Tambun Selatan. Pupus sudah impian saya untuk menyaingi kakak saya, satu sekolah dengannya, dan mempermalukan nya dengan prestasi saya. Tapi itu tidak terjadi. Akhirnya saya mengalihkan tujuan saya ke smp lainnya. Di smp saya mengalami antiklimaks, prestasi yang saya dapatkan selama sd, seakan tidak ternilai dengan apa yang saya raih di smp. Saya simpulkan itu sebagai bentuk frustasi karena gagal masuk ke smp yang sama dengan kakak saya.
            Di smp saya mengalami banyak problema, tidak pernah masuk peringkat 3 besar di kelas, bahkan saat duduk di bangku kelas 2 smp, saya mengalami kecelakaan olahraga futsal dan harus terbaring selama 3 bulan. Itu membuat sisa-sisa seamangat yang memang tinggal sedikit, semakin sedikit. Nilai saya berantakan saat itu. Kurun waktu 1 tahun selama kelas 3 smp belum cukup untuk meningkatkan performa belajar yang pernah saya ukir secera mulus di sd.
            Namun entah keberuntungan atau tidak, saya justru mendapatkan nilai kelulusan peringkat ke-2 di kelas dan ke-9 di sekolah. Itu membuat saya percaya diri dengan nilai saya dan segera mendaftar ke SMAN 1 Tambun Selatan, sekolah favorit saat itu, sekaligus tempat dimana kakak saya juga bersekolah. Namun, dengan segala nasib sial dan ketidakberuntungan saya pun gagal masuk ke sekolah tersebut. Untuk kedua kalinya saya gagal, untuk kedua kalinya saya merasa malu terhadap kakak saya, dan untuk kedua kalinya pula saya mengecewakan orang tua.
           




Akhirnya dari berbagai rekomendasi kerabat dekat, saya memutuskan masuk ke SMAN 2 Tambun Selatan. Kali ini, saya memiliki pemikiran lain, pemikiran yang lebih bijak karena saya pun semakin dewasa. “Kalau selama ini saya hanya berpikir bisa satu sekolah dengan kaka saya merupakan prestasi bagi saya, kenapa tidak saya meraih apa yang kakak saya tidak bisa raih di sekolah nya, walau sekolah kami berbeda?”. Prinsip itu sebagai modal awal saya menempuh kerasnya dunia sma. Di sekolah saya yang sekarang, sebagai permulaan, saya langsung mendapat peringkat 1 di kelas 10, 2 kali berturut-turut. Membanggakan? Jelas, jika dibandingkan dengan masa smp saya yang diselimuti awan hitam. Dan yang membuat saya lebih bangga, peringkat 1 di kelas merupakan hal yang tidak bisa diraih kakak saya selama 3 tahun sma dan saya hanya perlu waktu 6 bulan. Yang paling baru adalah lolos ke jenjang pembinaan olimpiade fisika di sekolah. Itu berkah yang sungguh luar biasa dari Allah s.w.t .
Semenjak itu, saya mulai terpacu dan harus terus mendulang prestasi sebanyak mungkin, untuk membuktikan kepada orang tua, terutama kakak saya. Memang perjuangan tidak selalu berjalan mulus, karena banyak kompetitor yang ada disekitar saya. Saya menyadari hal itu, saya tahu banyak orang-orang hebat di sekeliling saya, termasuk dia, kakak saya. Tapi saya percaya dengan potensi dalam diri saya, dan akan terus melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Karena saya memiliki target terakhir di dunia pendidikan, menjadi MABA Gadjah Mada nanti, tempat dimana kakak saya menuntut ilmu. Jika untuk ke-3 kali nya saya gagal, berarti saya memang tidak ada apa-apanya dibanding kakak saya, namun, saya tidak merasa rendah diri, setidaknya saya pernah mencoba dan berusaha, dan kata pepatah, tidak ada usaha yang sia-sia. Mungkin Allah punya jalan lain untuk saya, amiin.
Jika orang bertanya kepada siswa, apa yang membuat kalian semangat menjalani dunia pendidikan? Orang tua pasti adalah 99% dari jawaban yang akan dilontarkan mereka. Namun jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, saya akan menjawab, kakak saya, dialah yang membuat saya terus ingin menjadi orang hebat, orang hebat untuk kedua orang tua saya, meskipun tidak tersurat, tapi saya tahu bahwa segala prestasi cemerlang yang ia raih semata-mata ingin menunjukkan sebuah makna tersirat kepada adiknya, agar adiknya jauh lebih baik dari dia.
Dan saya, tidak akan berhenti sampai disini. Terimakasih.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terimakasih :)

XII Ipa 2, Terimakasih. Rabu, 30 Mei 2014                 Jam 4 pagi gue bangun dari kasur dan langsung buru2 nyalain tv karena pertandingan Liga Champions digelar saat itu. Tapi emang dasarnya apes, gue bangun pertandingan nya udah selesai. Tapi…. Madrid menang, gapapa deh jadi sedikit lega biarpun gak nonton. Hehehe.                 Permasalahannya gue bisa telat bangun buat nonton bola adalah, gue baruuuuu aja pulang jam 12 malem sampe rumah setelah melewatkan 4 hari spesial, istimewa, dan bersejarah dalam hidup gue. Gue baru pulang tour perpisahan SMA. Nah, yg gue akan bahas adalah tentang perpisahan SMA gue, bukan tentang Liga Champions nya loh ya hehehe.

Ketika Keinginan yang Tak Tercapai Benar-benar Digantikan Sesuatu yang Lebih Baik

Ngga gampang buat belajar semua ilmu yang ada di perkuliahan, sekaligus belajar nerima kenyataan ngga dapet jurusan yang diinginkan. Semua orang yang gagal untuk masuk jurusan yang mereka mau pasti sangat paham gimana beratnya menanggung dua hal itu...

Sedikit Sharing: Sebuah Pengalaman Dahsyat

             Cangkir kopi di samping laptop saya tinggal sedikit. Kiranya ngga ada 2 tegukan lagi paling sudah habis. Ohya, ini kopi oleh-oleh teman sepulang masa baktinya (Kuliah Kerja Nyata) selama dua bulan di Flores. Entah apa nama jenis kopi ini, yang pasti ini bukan bajawa, satu-satunya jenis kopi dari Flores yang saya tahu dan sering saya minum di warung-warung kopi di Jogja. Akhirnya kopi flores yang saya pernah minum bukan hanya bajawa. Dan akhirnya saya baru ingat…